Showing posts with label lingkungan. Show all posts
Showing posts with label lingkungan. Show all posts

20 April 2010

Banjarejo dilanda pagebluk


Beberapa minggu ini mungkin bukan hari-hari yang indah di Banjarejo. Tidak seperti biasanya yang dipenuhi canda tawa ramah penghuninya. Memang, bukan karena perubahan watak sikap warganya, tapi karena estafet warga yang masuk rumah sakit. Tak hayal dari narasumber kami, Lik Totok menyebutnya bahwa Banjarejo dilanda pagebluk. Beberapa nama warga Banjarejo yang ia sebutkan, dan menderita sakit antara lain anak istri Lik Totok, Rangga (putra Pak Yatmin Bengkayang), Heri dan Agus (putra Lik Samto), Om Edy Sumaento, Bu Giyarti, Bu Widji, Bu Nardho, Nisa (Putra Pak Giyanto Bengkayang), dan beberapa nama lagi. Tapi alhamdulillah, ketika info ini kami tulis kondisinya sudah berangsur-angsur normal.

Belajar dari apa yang dialami dan tidak mencoba mencari kambing hitam siapa dan mengapa hal ini bisa terjadi, mungkin salah satu preventif action adalah dengan menjaga kesehatan lingkungan. Seingat saya memang sudah lama warga tidak gotong royong resik-resik, model gotong royongnya cuma mbagun dan mbagun aja terus.

Nah, pastinya jangan tunda-tunda lagi untuk menjaga lingkungan, ya. Banyak cara kok, yang dapat kita lakukan untuk menjaga lingkungan. Kita bisa memulainya dari hal yang terkecil di lingkungan rumah.

Cara-cara itu antara lain :

1. Jangan membuang sampah sembarangan
Kelihatannya ini merupakan hal yang mudah dilakukan. Di mana saja kita berada, kita harus selalu ingat untuk membuang sampah pada tempatnya. Meskipun di rumah kita sudah membuang sampah pada tempatnya, sebaiknya pastikan juga sampah kita dibuang ke tempat pembuangan sampah bukan sungai. Kalau sudah bisa melakukan hal ini, pastinya kita bisa melangkah ke tahap selanjutnya.

2. Kerja Bakti
Kalau membersihkan lingkungan bersama-sama, pastinya lingkungan sekitar akan menjadi bersih, dan bebas dari wabah penyakit.Klo istilah anehnya mungkin deep clean, jadi bukan cuma rumah dan halaman tapi total keseluruhan kampung.

3. Menanam Pohon
Selain dapat membuat rindang lingkungan, pohon juga bisa menetralisir udara kotor, lho. Jadi udara di lingkungan kita bisa terasa segar.

Nah, dengan membersihkan dan menjaga lingkungan, pastinya kita mendapat manfaat yang sangat besar. Selain bisa mencegah banjir, lingkungan bersih juga bisa menghindari kita dari wabah penyakit. Ayo, warga Banjarejo jangan ragu-ragu untuk menjaga lingkungan!

05 April 2010

Ayo menghemat air !!


Pernah membayangkan bagaimana kalau tiba-tiba persediaan air kita mulai menurun? Kita tidak bisa mencuci, memasak, mandi, dan sebagai akibatnya, penyakit pun mengintai.

Sayangnya, itu bukan skenario dari Hollywood.

Saat ini, akibat penggunaan air yang boros dan penurunan luasnya daerah hijau, stok air bersih makin sedikit. Tapi jangan khawatir--Greenlifestyle sudah menyelidiki isu ini dan mengumpulkan beberapa tips yang gampang dilakukan di rumah, studio, kos (maupun rumah di pohon)

Nah, apa hubungan antara suplai air kita dan penurunan tingkat daerah hijau kota? Penggunaan air tanah secara berlebihan dan pembangunan ibukota dengan penggunaan tiang pancang besar (area hijau makin terbatas), menyebabkan permukaan tanah ibukota menurun. Setiap tahun, warga Jakarta mendapatkan 251.8 m3 air dari air tanah. Padahal, potensi air tanah yang dapat dimanfaatkan hanya 186.2 m3!

Alhasil, beberapa wilayah di Jakarta sudah merasakan sulitnya mendapatkan air bersih.

Jelas, untuk meghindari tenggelamnya kota besar seperti Jakarta (termasuk rumah kita), pengunaan air kita harus dikurangi. Pengurangan tersebut juga dapat membantu kita untuk menghemat pengeluaran biaya untuk mengakses air (listrik, pompa air tanah atau PDAM).



TIPS (mulai dari paling mudah)

* Cek kondisi sambungan antara pipa air dan keran di setiap titik saluran air yang ada di dalam rumah.

* Simpan air bekas saat cuci piring: Bak cuci piring 'double sink' lebih hemat air karena air keran tidak perlu mengucur terus saat mencuci. Gunakan satu ember di salah satu bak, dan buang air bekas cucian untuk menyiram tanaman atau WC.

* Botol dalam tanki WCMemasukkan botol air di tanki WC: Terdengar aneh kan? Padahal, memasukkan botol kemasan yang diisi air dalam tanki WC merupakan salah satu cara paling efektif, mudah dan murah untuk menggurangi pengunaan air saat flushing. Dalam 1 hari, kita membuang air sebanyak 2.5 botol galon air bersih hanya untuk membilas toilet. Dengan menggunakan botol air, kita bisa menghemat antara 15-20 liter per hari.

* Mandi 5 minit saja: Menghabiskan air bersih sekitar 30 liter saja, daripada menggunakan bathtub (bisa 60 liter).

* Gosok gigi dengan keran tertutup: Capek, kita suka lupa matikan keran saat sikat gigi. Tapi, membiarkan keran terbuka selama 1 menit itu sama dengan membuang 1 botol galon air bersih sehari.

* Memasang keran 'one touch': (liter air yang dihematkan per hari = 85%).

* Membuat lubang Biopori: Cara pembuatannya sangat mudah, yaitu dengan membuat lubang berdiameter 10 cm. Lubangnya diisi dengan sampah organik. Saat hujan turun, lubang ini akan terisi air. Air tersebut akan meresap ke dalam tanah dan diikat sebagai sumber air tanah yang nantinya akan kita butuhkan sebagai suplai air bersih.

* Memasang talang air: Dengan media penyalur air hujan ini, air hujan disalurkan ke bidang yang lebih rendah, misalnya ke selokan atau/dan ke sumur resapan.

* WC dual flush (sumber: http://www.flickr.com/photos/ann-dabney/3427470822/)Pilih toilet/wc dengan 'dual flush': Sistem pembilasannya terdiri atas dua pilihan, sesuai dengan kebutuhan.

Dari berbagai sumber.

Selamatkan air, selamatkan hidup


Air adalah salah satu kebutuhan utama semua mahluk hidup di dunia. Namun ketersediaan air bersih ternyata semakin menyusut. Jumlah air bersih yang tersimpan di ceruk bumi (aquifer) darat, laut, dan atmosfir, yang sebenarnya terbatas, terus menerus berkurang jumlahnya. Di masa mendatang, air akan menjadi begitu berharga dan mungkin segera menjadi komoditas utama dunia dan berpotensi menjadi sumber konflik yang cukup serius. Bagi negara dunia yang berada di kawasan Timur Tengah dan Afrika, ketersediaan air bersih telah lama menjadi masalah. Namun kini negara lain dengan jumlah penduduk yang besar seperti China, India, dan Amerika Serikat juga mulai merasakan masalah yang serupa.

Badan Pertanian Dunia (FAO) telah memperingatkan bahwa setidaknya lima miliar jiwa akan hidup dalam daerah yang amat minim air bersih di tahun 2025. Lebih dari setengah penduduk dunia akan hidup dalam kekeringan, mengais ikan yang tersisa dan merambah wilayah pantai yang telah tercemar selama 50 tahun terakhir. Limbah yang tak terkendali dan kebijakan penanganan air yang buruk menjadi penyebab utama dari semua masalah ini, terutama yang terjadi di negara berkembang. Demikian laporan dari Badan Lingkungan PBB (UNEP, United Nations Environment Programme) yang bekerja sama dengan lebih dari 200 pakar sumber daya air dunia.

"Kini, lebih dari 10 juta orang di dunia kesulitan mengakses sumber air bersih. Hal ini menandakan krisis, " ujar Halifa Drammeh dari UNEP. Lembaga ini, yang sejak tahun 2003 mencanangkan program Tahun Internasional bagi Air Bersih (International Year of Freshwater) bagi penduduk dunia, melaporkan terjadinya penyusutan terumbu karang dan garis pantai dunia akibat perubahan cuaca. Beberapa negara berkembang juga akan mengalami krisis air, gagal panen dan konflik seputar masalah pengelolaan air sungai dan telaga bila tidak melakukan langkah penyelamatan terhadap salah-kelola irigasi dan tidak memperbaiki pola pengelolaan sumber air tawar mereka.

Berdasarkan data dari NASA dan WHO, dilaporkan temuan data akan terjadinya krisis air yang mempengaruhi sekitar 400 juta jiwa saat ini akan berdampak serius pada setidaknya 4 miliar jiwa di tahun 2050 nanti. Pengelolaan fasilitas sanitasi yang tak memadai akan berdampak buruk terjadap lebih dari 2,4 miliar prnduduk dunia, dan jumlah ini merupakan 40 persen dari jumlah umat manusia yang ada. Separuh kawasan pantai, tempat di mana lebih dari semiliar orang menggantungkan hidupnya, bakal menyusut akibat pengembangan yang berlebihan atau pencemaran lingkungan.

Bagi anak balita, penyakit yang disebabkan oleh air yang tercemar (muntaber, diare dan sebagainya) merupakan salah satu ancaman utama bagi mereka. WHO melaporkan bahwa setengah dari jumlah ranjang rumah sakit di negara berkembang dihuni penderita balita yang menderita serangan penyakit seperti ini.

Pulau Jawa kehausan
"Masalah utamanya sebenarnya bukanlah pada soal keterbatasan air semata, namun juga karena masalah kemiskinan," tutur pakar ekonomi yang juga ahli sumber daya air, Chuck Howe dari Universitas Colorado. Lebih jauh dia menjelaskan bila 90 persen dari semua persoalan ini terjadi di negara berkembang, karena itu pemicu semua masalah ini sesungguhnya bukanlah persoalan air semata, melainkan masalah kemiskinan.

Krisis air sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi kita, karena di tahun 70-an, hal ini pernah mencuat sebagai isu utama dunia. Secara historis, masalah krisis air memang kurang bergema dibanding isu-isu lainnya yang dianggap lebih memikat seperti masalah ekonomi atau hak asasi. Namun pertumbuhan pesat penduduk dunia di era ini membuat masalah krisis air kembali menjadi perhatian utama dunia.

Beberapa masalah utama yang menandai terjadinya krisis air antara lain adalah tak tersedianya sumber air minum yang cukup saat ini bagi sekitar 1,1 miliar penduduk dunia. Kedua, pengambilan air tanah yang berlebihan ikut berperan bagi penyusutan lahan pertanian. Ketiga, polusi dan penggunaan mata air yang berlebihan mencederai keanekaragaman hayati yang ada. Keempat, mulai muncul berbagai konflik regional yang diakibatkan oleh berbagai kebijakan dan politisasi yang bersumber pada masalah penguasaan sumber air bersih.

Bagi kawasan lokal, seperti Pulau Jawa misalnya, krisis air yang membayang menjadi ancaman yang mencemaskan. Kekeringan mulai meresahkan para petani diberbagai sentra produksi padi. Lebih dari 800.000 hektar sawah di Pantura Jawa sudah puso dan ribuan hektar lainnya terancam gagal panen akibat kekurangan air. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika bahkan memperkirakan pada bulan Agustus, semua wilayah Indonesia akan mengalami kemarau panjang. Akibat kerusakan ekosistem hutan di berbagai wilayah ini, Pulau Jawa bisa mengalami defisit air empat kali setiap tahunnya. Menteri Negara Lingkungan Hidup bahkan telah menyatakan, di tahun 2005 Pulau Jawa telah mengalami defisit air 13 miliar meter kubik. Jumlah ini dipastikan terus bertambah setiap tahunnya.

Penyusutan air dan kekeringan yang berulang setiap tahunnya, tak saja karena fenomena alam, namun juga terjadi karena kerusakan lingkungan yang parah. Dibandingkan luas wilayah yang ada, hutan di Pulau Jawa hanya secuil 3.289.131 hektar. Dari jumlah ini, sekitar 1.714 juta hektar hutan . baik berupa hutan lindung atau hutan konservasi -berada dalam kondisi kritis. Kondisinya diperburuk dengan terseraknya lahan kritis di luar kawasan hutan, yang tahun ke tahun jumlahnya terus meningkat. Sumber di Balai Pemantapan Kawasan Hutan Jawa-Madura menyebutkan bahwa jumlah kawasan hutan yang harus dihijaukan mencapai 10.731 juta hektar, atau 84, 16 persen dari luas seluruh daratan Pulau Jawa. Dengan begitu, bisalah kita bayangkan bila di masa depan, Pulau Jawa akan semakin "kehausan". Dengan jumlah hutan yang minim, hanya sekitar 20 persen air hujan yang bisa diserap tanah. Sisanya mengalir percuma ke laut.

Padahal, menurut data di Kementrian Lingkungan Hidup, pada tahun 2003 saja, kebutuhan air di pulau terpadat se Indonesia ini sudah mencapai 38 milyar meter kubik. Bila air yang tersedia hanya sekitar 25,3 miliar meter kubik, terjadi defisit air bersih dalam jumlah yang cukup banyak, dalam satu periode saja.

28 December 2009

Kali Dengkeng meluap


Pas saya mudik liburan Natal, 2 hari Cawas diguyur hujan. Ternyata hujan yang cuma 2 hari ini sudah cukup membuat kali Dengkeng meluap. Wah apa gak memprihatinkan tuh kalau hujan terus mengguyur...
Bisa-bisa daerah di sekitar sungai kebanjiran... wah kenapa ya?